Ditengah hiruk pikuk mengenai hasil Pilkada Sumatra Barat dan Pilkada yang masih berlangsung pada beberapa kabupaten, saya tersentak membaca iklan duka pada harian Singgalang edisi Rabu, 27 Juli 2005, H. Asmawel Amin Dt. Sajatino, S.H. – mantan notaris terkenal di Padang dan di Jakarta (1973 – 2000) telah berpulang ke rahmatullah. Innalillah wainna ilaihi rojiun.
Ada satu hal yang amat sangat inspiratif pada diri almarhum dan itu membuat saya terobsesi. Setelah pensiun sebagai notaris terkenal di Jakarta, almarhum bukannya menetap di Jakarta, tetapi justru kembali ke kampung halaman-nya IV Koto Palembayan – Bapupaten Agam, lalu jadi Wali Nagari di sana. Suatu terobosan dan bentuk pengabdian yang tak terbayangkan oleh saya selama ini. Sama inspiratifnya dengan Uda Lesman Dt. Tumanggung yang setelah pensiun menjadi Wali Nagari Sungai Puar – Agam Timur. Begitu pula Pak Suardi Mahmud, mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Agam yang kini menjadi Wali Nagari Lasi – Agam Timur.
Kita semua mengetahui, cukup banyak tokoh nasional asal Sumatra Barat dan tokoh Sumatra Barat sendiri yang pasca pensiun masih produktif. Namun tidak sedikit yang masih gagah-gahah dan masih bisa berfikir jernih (nuchter) - setelah pensiun – “bersembunyi“ di Jakarta dan tokoh dari Sumatra Barat sendiri pun malah ikut “merantau” ke Jakarta, lalu menjadi tidak produktif lagi. Mudah-mudahan saya keliru telah berburuk sangka bahwa hari-hari mereka dilalui hanya dengan menimang-nimang cucu dan menghirup polusi serta bergelut dengan kemacetan lalu lintas Jakarta. Tidak sedikit pula yang memilih untuk menetap di kota Padang dengan rutinitas yang kurang lebih sama. Pendeknya, tidak sedikit yang setelah pensiun, menjadi tidak produktif lagi.
Nagari-Nagari di Sumatra Barat telah bermunculan kembali bagai suatu “retro trend” sejak otonomi daerah digelar berdasarkan Undang-Undang No.22/1999 (kini UU.No.32/2004) dan Perda Propinsi Sumatra Barat No. 9 Tahun 2000. Kita tidak sudi gerakan kembali ke Nagari itu sekedar tren pengulangan (retro trend) lalu terjerembab menjadi ajang nostalgia untuk menjemput kembali romantisme masa lalu. Kita menyadari bahwa kegiatan sosial, ekonomi, politik dan kemasyarakatan bertumpu di Nagari-Nagari (dan Kelurahan di perkotaan). Oleh sebab itu, strategi membangun Sumatra Barat adalah membangun Nagari-Nagari (dan Kelurahan pada perkotaan). Sumatra Barat yang kuat hanya bisa dibangun diatas Nagari-Nagari yang kuat sebagai pondasi.
Sekarang, mari kita ber-andai-andai, lalu membayangkan lompatan-lompatan besar yang akan terjadi pada berbagai bidang di Nagari-Nagari seandainya 10 (sepuluh) persen saja dari tokoh-tokoh yang sedang kita pergunjingkan ini – setelah pensiun– mau kembali ke kampung halamannya memimpin Nagari seraya mentransformasikan pengalaman dan kepiawaiannya bagi Nagari dan Anak Nagari.
Seandainya Pak Djohari Kahar bersedia jadi Wali Nagari Bayua – Maninjau, Pak Hasan Basri Durin jadi Wali Nagari Jaho – Padang Panjang, Pak Syahril Sabirin mengelola Nagari Kurai V Jorong – Bukittinggi, Pak Yanuar Muin Wali Nagari Padang Gantiang – Tanah Datar, Pak Syahrul Ujud Wali Nagari di Koto Sani – Solok, Pak Emil Salim memimpin Nagari Koto Gadang – Bukittinggi.
Masih segar dalam ingatan kita, Buya Datuk Palimo Kayo, selesai menunaikan tugas sebagai Duta Besar di beberapa negara Islam, kembali ke kampung halaman menjadi pemimpin non-formal dan hasilnya, lahirlah MUI pertama kali di Sumatra Barat, lalu kemudian diadopsi secara nasional.
Dua puluh hingga lima belas tahun yang lalu, mimpi ini mungkin akan tetap jadi mimpi, oleh karena pada masa itu transportasi dan teknologi informasi belum semaju sekarang, sehingga kalau beliau-beliau yang sedang kita pergunjingkan itu tetap kita “paksa” pulang kampung, akan sama artinya dengan kita “penjarakan” di Nagari-Nagari seperti tempo dulu Belanda “membuang” pejuang kemerdekaan ke Boven Digoel.
Dewasa ini transportasi dan teknologi informasi telah merubah dunia (termasuk Nagari) menjadi tak berbatas (borderless), menjadi “virtual reality”. Ketika Pak Wali Nagari Syahril Sabirin harus memenuhi undangan berceramah di depan para “post graduate” dari London School of Economic di London – misalnya – maka dalam satu jam lebih sedikit saja naik mobil dari Kurai V Jorong, beliau sudah akan sampai di Bandara Internasional Minangkabau untuk terbang ke Jakarta atau siapa tahu dalam waktu yang tak terlalu lama Gubernur Gamawan Fauzi berhasil membuka jalur ” regular flights” dari Bandara Minangkabau langsung ke berbagai Negara di Eropa dan Timur Tengah, sehingga Pak Wali Nagari Syahril Sabirin bahkan bisa terbang langsung dari Bandara Minangkabau menuju Bandara Heathrow di London.
Ketika Pak Hasan Basri Durin diminta memberikan kuliah umum di depan peserta Lemhanas, dalam waktu kurang dari satu jam, bermobil dari Jaho, beliau sudah tiba di Bandara Minangkabau dan satu setengah jam kemudian sudah tiba di Bandara Sukarno-Hatta. Lalu, jika ada Warga Nagari yang bertanya, maka akan terjadi dialog ringan seperti ini: “Kama pak Wali ?”. Pak Wali menjawab dengan ringan: “ Ka Jakarta cah, beko malam ambo baliak” atau “ Ka London cah, Rabaa ambo baliak, hari Kamih ambo alah bisa mamimpin rapek Musyawarah Pembangunan Nagari”.
Coba pula bayangkan, seandainya di Nagari-Nagari itu telah ada basis web-site yang memungkinkan untuk membangun “Nagari On-line”. Ada perpustakaan modern berisikan buku-buku sesuai dengan latar belakang dan pengalaman para Wali Nagari-nya. Ada pula yayasan yang secara rutin memberikan beasiswa kepada anak nagari yang berbakat.
Ketika mahasiswa FISIP hendak melakukan tugas magang, maka mereka berebut memilih magang di Kantor Wali Nagari Jaho, karena Perpustakaan Nagari Jaho memiliki buku-buku sospol, tata Negara, tata pemerintahan dan buku-buku sejarah yang lengkap, dan Pak Hasan Basri Durin Wali Nagari yang sarat dengan pengalaman praktek itu, siap pula memberikan bimbingan. Nagari Kurai Limo Jorong, akan menjadi tempat berguru bagi para ekonom muda. Padang Gantiang, dengan perpustakaan kelistrikan yang sangat lengkap, menjelma menjadi “surau” para praktisi dan sarjana teknik elektro. Di Nagari-Nagari seantero Sumatra Barat akan bermunculan sekolah-sekolah formal unggul dan “surau-surau” intelektual yang berbobot.
Bayangkan pula, camat dan bahkan bupati yang tidak lagi berani main-main dengan Anggaran Nagari. Bayangkan suatu ketika kelak Anak Nagari bercerita dengan bangga bahwa setiap hari yang diparkir di depan Kantor Wali Nagari Sulit Air – Solok adalah sebuah Range Rover milik pribadi Pak Wali Nagari Rainal Rais, bukan kendaraan dinas. Bayangkan bagaimana kemajuan yang akan dicapai Nagari Cimparuah kalau kelak dipimpin seorang “entrepreneur” sekaliber Mohammad Rani Ismael. Bayangkan “multiplier effects” yang akan dinikmati Sumatra Barat akibat transformasi pada berbagai bidang yang dilakukan jago-jago tua itu.
Tanpa bermaksud meremehkan kemampuan para Wali Nagari yang menjabat sekarang, pengabdian terakhir para cirik-an pahek itu kita harapkan secara cepat (ada lompatan besar) akan mengisi “kerangka acuan” kembali ke Nagari yang telah kita bangun sejak otonomi daerah digulirkan.
Akhirnya, kelak ketika Sang Khalik memutuskan bahwa pengabdian mereka sudah paripurna, lalu memanggil mereka pulang ke-haribaan-Nya satu demi satu, saya berani bertaruh bahwa jalan menuju tempat peristirahatan terakhir para “emeritus” itu tidak akan sanggup menampung para pelayat dalam prosesi duka. “Old soldier never die”.
Saya sudah kehabisan imajinasi untuk membayangkan semua keindahan itu. Mohon diri untuk kembali ke dunia nyata.
Sumber : RUSDI ZEN ( FaceBook )